
Aku biarkan saja dia diam mencari lelap.
“Tidurlah, malam sudah semakin lewat”.
Rona wajahnya jelas sedang menahan rasa gejolak. Antara lelah; lemah; juga sakit yang sekian hari menguji tabah. Suara malam kian sunyi. Maka biarlah aku ikut rebahkan sebentar lenguh jiwa ini, di sisi pembaringan, sambil menatap wajah suamiku yang kini tak bermaya.
Tiba tiba aku begitu takut:
“Ya, aku begitu takut kehilanganmu”.
“Aku begitu takut kau tinggalkan dalam sepi”.
“Aku begitu takut sendiri menghitung sisa hari hari”.
“Tidurlah, malam sudah semakin lewat”.
Rona wajahnya jelas sedang menahan rasa gejolak. Antara lelah; lemah; juga sakit yang sekian hari menguji tabah. Suara malam kian sunyi. Maka biarlah aku ikut rebahkan sebentar lenguh jiwa ini, di sisi pembaringan, sambil menatap wajah suamiku yang kini tak bermaya.
Tiba tiba aku begitu takut:
“Ya, aku begitu takut kehilanganmu”.
“Aku begitu takut kau tinggalkan dalam sepi”.
“Aku begitu takut sendiri menghitung sisa hari hari”.
Hatiku dirundung gelisah. Kutatap lagi pucat wajahnya ringkih menggambar
pasrah. Kugenggam lalu kucium jemari tangannya, kuhela nafas dalam dalam, dan
coba hembuskan lagi bersama duka yang juga mendalam.
“Eh,
sudah bangun ya Pak?” tersentak lalu pelan tanyaku.
Cepat
berpaling menutupi resah sesegera mungkin, ketika terasa jemari lemah itu telah
membalas genggamanku.
“Mau minta apa Pak?”
Dia
hanya diam. Dia hanya mampu melirik. Dia hanya mampu berkedip.
Lantas
aku berusaha mengeja maksud dari bahasa matanya. Sepertinya ia sedang memandang
gambar bocah bocah kecil yang sudah berpuluh tahun terpajang di dinding kamar.
Benarkah?
“Gambar itu ya Pak?”, hatiku merasa ia
mengiyakan, maka segera kuambilkan dan bawa mendekat kepadanya.
Aku
melihat jiwa suamiku menjadi begitu rapuh ketika tatap matanya seakan larut ke
dalam gambar kenangan itu.
“Kenapa Pak, kangen
dengan anak anak ya?”
“Sabar ya Pak”.
Semakin tak kuasa menahan sesak di ruang dada, melihat suamiku yang biasanya tegar, kini mengalirkan airmata.
“Sabar ya Pak”.
Semakin tak kuasa menahan sesak di ruang dada, melihat suamiku yang biasanya tegar, kini mengalirkan airmata.
“Ya Allah, sebegitu besarkah rindu suamiku pada anak anaknya?”.
“Hinggakan ia sanggup menjelma dalam linang airmata”.
“Dimana kalian nak?”
“Tak tahukah kau, saat ini kami sangat membutuhkanmu?”
“Pulanglah, atau setidaknya berkabarlah”.
“Hinggakan ia sanggup menjelma dalam linang airmata”.
“Dimana kalian nak?”
“Tak tahukah kau, saat ini kami sangat membutuhkanmu?”
“Pulanglah, atau setidaknya berkabarlah”.
Ucapku
lirih sekali, sembari berkali menekan nomor telefon yang tak lagi bisa di
hubungi.
……………………………………………………………….
Lonk’s copyrighted. 270813.
0 apresiasi sahabat:
Post a Comment
Kritik dan saran amatlah diharapkan.
Salam hormat & happy blogging.