Saturday, September 15, 2012

Hitam putih pucuk cinta (surat untuk isteri)



      Untuk isteri yang menanti

      Saat kau terima sepucuk surat yang kutitipkan pada sahabat, bukan ingin hatiku menambah luka sekian lama,  kian tergurat. Tapi aku hendak mengusung  salah, lalu berharap kau meleburnya dengan ampunmu yang seribu tabah. Karena lidah kelukupun  jujur saja tak sanggup lagi berbicara.

       Lima tahun tanpa jeda, aku hilang tiada berita.
Meninggalkan telatah mungil si buah hati, damai kampung, sawah ladang, bahkan juga hutang yang merata rata.
Tentu kau selalu bertanya, dimana bukti tanggung jawabku.

       Sungguh, siapa sangka akan jadi begini dik…
Memang khilaf ada pada diriku. Mimpi-mimpi yang ditabur telah membuatku hancur. Lalu kecewa,merana dan hanya bisa berangan tentang ‘seandainya’:
    - Seandainya, dahulu aku menuruti keinginanmu, bersyukur apa yang ada, pasti saat ini sedang kutatap lekat ayu wajah yang tak henti kusanjungi. Pagi bercengkerama di beranda, ikhlas kau seduh kopi, sembari melihat ‘peri kecil’ kita  sedang belajar berjalan.

Aku suami, masih berpegang janji…
Setulusnya, padamu hendak kukabarkan gejolak rindu tak tergambar di sisi nyeri.

Dik…
Kumohon do’amu, kuyakin setiamu.
Percayalah…
Aku segera pulang.



…………………………………………………………………………………
Lonk.150912244.

2 comments:

  1. Replies
    1. Hanya tentang yg saya lihat dan saya dengar bos. Mksh tlah singgah.Salam.

      Delete

Kritik dan saran amatlah diharapkan.
Salam hormat & happy blogging.

BERBAGI DAN SALING BELAJAR