Friday, November 18, 2011

Rumah berpenjaga (bangsat yang terhormat).





Halah...
apa yang harus ditakutkan
meski berpuluh tahun engkau diinapkan
toh rumah berpenjaga tak lagi mengerikan.

Tahukah kau kawan?
Sekarang disini ada kasur empuk
tak perlu risau engkau tak  lagi gemuk.
Sekarang disini ada telephone dan televisi
untukmu berbual sambil bernyanyi.

Apalagi..
Jauh isteri pengin hai hai hai?
Ada solusi!
Jentikkan jari maka datanglah sepuluh bidadari.

Disini semua bisa dibeli dengan uang uang dan uang, kawan!
Lalu mata mereka pura pura buta
Lalu otak mereka menjadi gila
gila gila gila!
pada angka angka bertimbun, hingga menetes air liurnya

Bila kau ingin jadi bangsat sepertiku
jangan pula kau jadi miskin
tebalkan dulu kantongmu 
lalu sebar di celah sepatu
maka lantas dijilat kilat kilat salahmu.

Percayalah,
kita pasti jadi bangsat yang terhormat
(disini).

............................................................
Copyright//Lonk.19.11.2011.

Megatruh


Sosok renta senandungkan tembang lelah
tentang sebuah kepergian
perpisahan
kehilangan
duka
airmata
kearah dimana abadi itu sesungguhnya.

Seakan pula ia hendak titipkan pesan pada angin nan semilir
pada rumput; pada daun yang ikut bergoyang.

“Hidup adalah perjalanan menuju pulang”.

...................................................................

Copyright//Lonk.18.11.2011.

Thursday, November 17, 2011

Mata dan kekasih


Mata yang memandang kekasih
bakar
jelma raut wajah merona

Mata yang merenung kekasih
pinta
tanpa harus bicara

Mata yang jauh kekasih
sayu
terpasung dalam kornea kesepian

Mata dan kekasih adalah tentang rindu
kisah semalam
................................................



Copyright// Lonk.17.11.2011.


BERBAGI DAN SALING BELAJAR